Lompat ke isi

Perkembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Dari Maliki Encyclopedia




MALIKI ENCYCLOPEDIA · ARTIKEL PENGETAHUAN

Perkembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Ringkasan

Pemerintah Indonesia secara berkesinambungan mentransformasi kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) guna meningkatkan mutu pendidikan agar adaptif terhadap perkembangan zaman dan kondisi darurat. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman sistematis yang menyelaraskan komponen tujuan, isi, metode, dan evaluasi. Secara historis, dinamika kurikulum PAUD di Indonesia diawali oleh "Rentjana Pendidikan 1964" berorientasi Pancawardhana, disusul standarisasi manajemen Taman Kanak-kanak (TK) pada 1968, dan integrasi calistung serta moral Pancasila pada 1976. Pergeseran paradigma berlanjut melalui Cara Siswa Belajar Aktif (CBSA) pada 1984, penerapan sistem tema/subtema pada Kurikulum 1994, hingga lahirnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 yang mengubah sistem caturwulan menjadi semester. Standardisasi PAUD dipertegas melalui Permendiknas No. 58 Tahun 2010 yang menginisiasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selanjutnya, Kurikulum 2013 hadir dengan membawa pembaruan pada tiga aspek penilaian (pengetahuan, keterampilan, sikap/perilaku) berbasis STPPA, KI, dan KD. Transformasi terakhir dipicu oleh pandemi COVID-19 pada tahun 2020 melalui Kepmendikbud No. 719/P/2020, yang melahirkan Kurikulum Kondisi Khusus (Kurikulum Darurat) berupa penyederhanaan kompetensi dasar esensial guna memfasilitasi sistem belajar dari rumah secara optimal. Kata Kunci: Kurikulum PAUD, Sejarah Kurikulum, Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, KTSP, KTSP.


KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA DARI MASA KE MASA

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini di Indonesia, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai transformasi demi terciptanya kualitas yang lebih baik sesuai dengan perkembangan zaman. Salah satu upaya pemerintah dalam memajukan pendidikan yakni dengan cara mengembangkan kurikulum. Kurikulum diadaptasi dari bahasa Inggris “curriculum” yang artinya suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar [1]. Kurikulum juga dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum memiliki empat komponen, yaitu komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan dan komponen evaluasi [2]. Sebagai suatu sistem, setiap komponen dalam kurikulum harus saling berkaitan satu sama lain.

Dari tahun ke tahun, kurikulum senantiasa mengalami perubahan dan perbaikan oleh pemerintah. Sejarah perkembangan kurikulum bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia diawali pada tahun 1964. Saat itu, kurikulum lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan “Rentjana Pendidikan” yang mana di dalamnya memuat tentang sistem pendidikan Pancawardhana [3]. Adapun sistem pendidikan ini mengarahkan peserta didik untuk berkembang menjadi manusia yang berpedoman pada sila-sila Pancasila dengan penuh rasa tanggung jawab. Setelah rencana pendidikan, muncul pedoman resmi bagi penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak di Indonesia pada tahun 1968. Hal ini disusun oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bagian pendidikan pra-sekolah dan disahkan oleh presiden Soekarno. Penerbitan pedoman ini sebagai upaya peninjauan konsep dan praktik penyelenggaraan secara khusus bagi pendidikan anak usia dini. Adapun isi kurikulum yang dibahas mencakup segala sesuatu yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan pendidikan dalam arti luas meliputi silabus, contoh pelaksanaan, organisasi TK intern dan ekstern, perlengkapan, guru/pegawai, administrasi, dan evaluasi [4]. Isi pada kurikulum ini sudah lebih lengkap dan terorganisir lebih baik daripada kurikulum sebelumnya.


Seiring dengan berjalannya waktu, kurikulum PAUD di Indonesia semakin berkembang. Buktinya pada tahun 1976, terbitlah keputusan Mendikbud No. 054/U/1977 pasal 6 yang menjelaskan bahwa pendidikan agama dimulai dari TK yang diintegrasikan ke dalam bidang pengembangan pendidikan moral pancasila [5]. Selain itu, pada tahun tersebut juga ditetapkan bahwa bahasa daerah menjadi bahasa pengantar dan persiapan calistung (baca, tulis, dan hitung). Persiapan calistung dilakukan sebagai bekal anak usia dini sebelum masuk ke Sekolah Dasar (SD). Delapan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1984, kurikulum pendidikan anak usia dini mulai disesuaikan dengan bakat, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa. Hal ini dilakukan agar siswa lebih leluasa memilih berbagai macam kegiatan atau permainan yang dapat menunjang bakat, minat, kemampuan, serta kebutuhannya. Oleh karena itu, pembelajaran pada tahun tersebut lebih menekankan pada aktivitas yang berorientasi pada Cara Siswa Belajar Aktif (CBSA). Secara umum, CBSA sering disebut sebagai Kurikulum 1976 yang di sempurnakan sebab tujuan kurikulumnya hampir sama. Yang menjadi perbedaan yakni Kurikulum 1976 bertujuan menjadikan siswa sebagai masyarakat yang memiliki prioritas pertama, sedangkan pada Kurikulum 1984 pengembangan pribadi siswa menjadi yang utama [6].

Setelah CBSA, Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1990 tentang pendidikan pra- sekolah secara khusus disahkan pemerintah pusat pada tahun 1994. Selain itu, pendidikan pra-sekolah juga diatur dalam peraturan Kemendikbud RI No. 0486/ZU/1992 yang membahas hal-hal yang terkait dengan pendidikan bagi anak usia dini dengan penjabaran yang lebih spesifik dari tahun-tahun sebelumnya [4]. Pada tahun tersebut juga disahkan Kurikulum 1994 yang mana dalam implementasi pembelajarannya mulai menggunakan sistem tema dan subtema. Tema dan subtema merupakan pokok bahasan yang akan dikembangkan lebih lanjut oleh masing-masing sekolah untuk menjadi kegiatan pembelajaran yang operasional. Adapun topik dalam tema disesuaikan mulai dari lingkungan terdekat bagi anak.

Sepuluh tahun kemudian, kurikulum bagi TK di Indonesia bergeser menjadi Kurikulum 2004. Kurikulum ini lebih dikenal dengan sebutan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Adapun perbedaaan yang paling signifikan pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 terletak pada bagaimana cara siswa belajar di kelas. Kurikulum 1994 masih menggunakan sistem catur wulan seperti tahun-tahun sebelumnya, sedangkan Kurikulum 2004 sudah menggunakan sistem semester [7]. Selain itu, Kurikulum 2004 menuntut siswa untuk lebih aktif mengikuti kegiatan pembelajaran demi mendukung semua aspek perkembangannya secara optimal. Pada dasarnya, guru tidak hanya bertindak sebagai fasilitator namun juga sebagai motivator dalam pembelajaran.

Lalu pada tahun 2010, pemerintah menerbitkan Standar Nasional PAUD No. 58 tahun 2010. Standar Nasional PAUD adalah hasil kajian yang dilakukan terhadap Standar Kompetensi TK/RA 2004. Standar ini ditujukan untuk seluruh anak usia dini yaitu dari usia lahir sampai 6 tahun. Sehingga Kegiatan pengembangan suatu aspek dilakukan secara terpadu dengan menggunakan pendekatan tematik. Adanya perubahan kurikulum tidak hanya berubah secara label saja, namun juga diiringi dengan perbaikan sistem pendidikan PAUD khususnya, agar anak usia dini dapat mencapai perkembangannya secara optimal [8]. Pengembangan kurikulum pada tahun tersebut dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).


Setelah KTSP, pemerintah merilis kurikulum baru bernama Kurikulum 2013. Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku [9]. Di dalam Kurikulum 2013, rencana pembelajaran bagi PAUD didasarkan pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembngan Anak (STPPA), Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Capaian Perkembangan (ICP), dan program pembelajaran yang terdiri dari: program tahunan, program semester, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM), dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Dan yang terakhir, pada tahun 2020 terjadi pergolakan besar di seluruh penjuru dunia akibat dari adanya pandemi virus Corona atau yang dikenal dengan COVID-19. Berbagai aspek dalam kehidupan termasuk pendidikan anak usia dini terkena dampak yang menyebabkan sistem pembelajaran harus berubah total. Seluruh siswa wajib belajar di rumah masing- masing dengan memanfaatkan teknologi yang sampai saat ini terus dikembangkan untuk memudahkan siswa dalam belajar. Untuk itu, Kemendikbud juga menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus [10]. Kurikulum ini merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional, dalam artian pemerintah melakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya. Kemendikbud juga menyediakan berbagai modul pembelajaran yang diharapkan dapat membantu proses belajar dari rumah dengan mencakup uraian pembelajaran berbasis aktivitas untuk guru, orang tua, dan peserta didik.

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

KURIKULUM DENGAN PENDEKATAN MONTESSORI - SELF-CORRECTING DAN PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA ANAK

Salah satu yang menjadi tren dalam dunia pendidikan anak usia dini saat ini adalah didirikannya berbagai lembaga sekolah yang mengatasnamakan “Montessori”. Sesungguhnya pemilik dari nama tersebut adalah Maria Montessori (1870-1952), seorang filsuf pendidikan sekaligus dokter neuropatologi dari Italia pada akhir abad 19. Beliau mengembangkan suatu model pendidikan bagi anak yang didasarkan pada aktivitas kesadaran diri, pembelajaran langsung, dan permainan kolaboratif. Selain itu, anak-anak didorong membuat pilihan kreatif dalam pembelajaran mereka, sementara para guru menawarkan kegiatan yang sesuai dalam memandu prosesnya [11]. Ide tersebut muncul ketika Maria Montessori mengikuti kegiatan yang diadakan oleh lembaga pelatihan guru bagi sekolah anak berkebutuhan khusus. Sejak saat itu, beliau mulai mendalami dan mengembangkan sistem pendidikan yang ideal bagi seluruh anak terutama yang memiliki kebutuhan khusus. Kemudian, Maria Montessori membuat sekolah Casa dei Bambini (Childern’s House) dan mempraktikkan model pendidikan tersebut untuk pertamakalinya pada tahun 1907. Adapun kurikulum yang digunakan oleh Casa dei Bambini merupakan kurikulum berdasarkan konsep Montessori yang kini diadaptasi oleh ribuan sekolah di seluruh penjuru dunia. Menurut Maria Montessori, pendidikan merupakan sebuah proses alamiah yang dilakukan oleh setiap individu. Hal tersebut diperoleh tidak hanya dengan mendengarkan perkataan saja, akan tetapi juga dengan pengalaman terhadap lingkungan di sekitarnya [12]. Pendidikan yang dimaksud oleh beliau menjadi portal utama untuk menuju level kehidupan selanjutnya. Apabila tidak dikawal dengan baik, efeknya dapat berkepanjangan bahkan hingga sepanjang hidup seseorang. Pendidikan dikatakan ideal apabila anak mampu mengembangkan kemampuannya sendiri [13]. Dengan kata lain, anak bebas berkesempatan untuk bergerak dan melakukan apapun yang dikehendakinya. Sebab, pada dasarnya anak ingin menemukan apa yang dibutuhkannya untuk menuntaskan rasa ingin tahu mereka. Adapun ciri khusus dari pendekatan Montessori yakni menekankan pada pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya. Ciri yang paling menonjol selanjutnya yaitu adanya penggunaan otodidak (koreksi diri) untuk memperkenalkan berbagai konsep. Dengan penggunaan koreksi diri tersebut, Montessori berkeyakinan bahwa anak akan menyadari kekeliruannya sendiri sehingga dapat mendorong mereka untuk mengulangi, mencoba, dan memperbaiki kesalahannya [14]. Selain itu, Montessori berkeyakinan bahwa hal tersebut akan melatih kemandirian dan kedisiplinan pada diri anak. Hal tersebut sangat menunjang 6 aspek perkembangan anak, terutama dalam aspek sosio- emosional. Tujuan dari pendekatan Montessori yaitu untuk membantu anak agar dapat mengembangkan potensi diri sepenuhnya [15]. Oleh karena itu, keunikan dari pendekatan Montessori dibandingkan dengan pendekatan lain adalah kegiatan pembelajaran yang berpusat pada anak. Dalam pandangan Montessori, tenaga pendidik memiliki peran sebagai seorang direktris, yaitu mengarahkan dan memberi koreksi bagi anak yang dilekatkan pada struktur latihan koreksi diri. Tenaga pendidik juga menyiapkan diri sendiri serta lingkungan yang merangsang dan menantang agar tercipta situasi pembelajaran yang spontan [16]. Dan yang terakhir, tenaga pendidik bertindak sebagai penghubung antara anak dan media pembelajaran serta mengamati dan memperhatikan bagaimana anak melakukan kegiatan secara mandiri.


Montessori mengembangkan kurikulum berdasarkan keryakinan bahwa anak memiliki creative sensibilities dan absorbent mind pada periode sensitifnya. Periode sensitif ini dapat digunakan untuk membantu anak beradaptasi dengan lingkungannya [17]. Pengembangan motorik, sensorik, sosio-emosional, dan bahasa anak dapat diberikan sepanjang periode sensitif karena pada masa ini anak memiliki kesiapan yang tinggi dalam menerima pembelajaran. Pada masa ini, anak harus diberikan alat permainan yang juga dapat menunjang perkembangan potensi dari masing-masing anak.

[11] [12] [13] [14] [15] [16] [17]

PENDEKATAN REGGIO EMILIA: KURIKULUM PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK

Reggio Emilia menjadi nama yang sangat tidak asing dalam pendidikan anak usia dini. Reggio Emilia merupakan nama suatu kota kecil di kawasan Italia Utara. Dalam ranah pendidikan, Reggio Emilia dikenal sebagai salah satu pendekatan pembelajaran bagi anak usia dini. Pendekatan ini diciptakan oleh Loris Malaguzzi bersama para orang tua di daerah tersebut setelah terjadi Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1946. Loris Malaguzzi sendiri merupakan seorang ahli pendidikan yang masyhur di Eropa. Beliau meyakini bahwa setiap anak sangatlah cerdas, kuat, serta mempunyai keinginan yang dahsyat [18]. Berbekal keyakinan tersebut, Malaguzzi mengembangkan sebuah pendekatan pendidikan anak usia dini yang dikembangkan untuk pengasuhan dan program pendidikan yang dirancang bagi anak sejak lahir sampai berusia enam tahun. Landasan dari pendekatan ini yakni terdiri dari berbagai teori perkembangan dan pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan konstruktivis pada anak. Pendekatan ini juga menekankan pada prinsip pembelajaran DAP (Developmentally Approprite Practice) yang didasarkan pada minat, kemampuan dan kebutuhan anak [19].

Pendekatan Reggio Emilia sendiri dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang menjadikan metode proyek sebagai metode utama dalam pembelajaran Metode proyek yang dimaksud dalam pendekatan Reggio Emilia merupakan suatu proses pembelajaran di mana anak akan dibimbing untuk berusaha memecahkan masalah penting bersama-sama dengan teman lainnya dalam satu tim dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu [20]. Selain menggunakan metode proyek, pendekatan Reggio Emilia juga dipandang sebagai sebuah perjalanan usaha dalam membangun hubungan dengan lingkungan sekitar. Adapun tujuan dari pendekatan Reggio Emillia secara umum yakni dalam rangka mengkomunikasikan ide dan potensi anak, serta sumber-sumber pembelajaran yang sering kali terabaikan. Selain itu, Reggio Emilia juga bertujuan untuk membangun suasana pembelajaran yang aktif, konstruktif, dan kreatif [21]. Bagi guru, pendekatan ini bermanfaat untuk meningkatkan profesionalisme guru, mendukung suatu kesadaran yang tinggi terhadap nilai-nilai gotong royong dan kebermaknaan hubungan antara sesama manusia. Secara singkat, filosofi Reggio Emilia bertumpu pada beberapa prinsip komprehensif berikut [5]: 1) Anak merupakan individu yang kompeten untuk tumbuh dan berkembang dengan membangun pengetahuanya melalui eksplorasi, ekspresi diri, dan interaksi sosial, 2) Saling kebergantungan antara anak, pendidik, dan orang tua di mana setiap individu berhasil dalam setiap kaitannya, 3) Lingkungan sekolah merupakan pendidik ketiga bagi anak, maka dari itu harus dipersiapkan sebaik-baiknya, 4) Konsep utama pengembangan kurikulum dan proyek pembelajarannya berasal dari ide, kegiatan, dan keingintahuan anak baik direncanakan maupun insidental. Seperti pada poin 4 di atas, sebuah kurikulum yang menggunakan pendekatan Reggio Emilia dibangun berdasarkan kepentingan anak. Topik dalam pembelajaran dirancang berdasarkan ide, pengalaman, dan pembicaraan anak, masyarakat, maupun keluarga melalui


berbagai peristiwa [22]. Tugas tenaga pendidik yaitu bekerja sama dengan anak untuk merumuskan hipotesis tentang tujuan dan kemungkinan arah dari sebuah proyek, termasuk di dalamnya alat dan bahan yang diperlukan maupun dukungan serta keterlibatan lingkungan sekitarnya. Kurikulum dengan pendekatan Reggio Emilia ini bertujuan untuk kemajuan purposif bagi pendidikan. Dalam pelaksanaannya, tenaga pendidik bertugas untuk mengawal dan mengikuti kepentingan proses belajar anak dan tidak memberikan intruksi yang fokus terhadap materi utama [23], [8]. Anak diharapkan mampu mengekspresikan pemahaman mereka melalui salah satu dari bahasa simbolik, termasuk di antaranya adalah melalui gambar, bermain peran, dan menulis. Anak juga didorong untuk bekerja sama dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul. Selanjutnya, guru sebagai fasilitator bertugas mengamati sejauh mana anak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada [24]. Ide dapat direvisi jika diperlukan dan guru membiarkan anak untuk mengulang proses pembelajaran dan memodifikasi karya dengan tujuan memperdalam pemahaman topik yang lebih baik. Dan yang terakhir, guru juga harus terlibat dalam proses eksplorasi dan evaluasi, serta memperhatikan semua hasil perkembangan anak dalam menyelesaikan masalah sesuai pemahaman mereka [25].

[18] [19] [20] [21] [22] [23] <ref[7] C. P. Edwards, “‘Fine Designs’ from Italy: Montessori Education and the Reggio Approach,” (2023</ref> [24] [25] [26]

PEMBELAJARAN AKTIF BAGI ANAK USIA DINI DENGAN KURIKULUM HIGH/SCOPE

Salah satu pendekatan dalam pendidikan anak usia dini yang sangat terkenal di kawasan Amerika Serikat adalah pendekatan High/Scope. Pendekatan ini digagas oleh David P. Weikart bersama timnya dari High/Scope Educational Research Foundation di Ypsilanti, Michigan. High/Scope mulai dikenal pada tahun 1962 setelah adanya program prasekolah Perry, sebuah program yang ditujukan bagi anak usia 3-4 tahun yang bermukim di sekitar Sekolah Dasar Perry. Program ini merupakan salah satu pelopor dalam dunia pendidikan untuk membantu anak dalam mengatasi dampak negatif kemiskinan dalam pendidikan yang yang selanjutnya terwujud dalam program-program Head Start [27]. Pendekatan ini memiliki desain eksperimental yang sangat terpirinci. Hasil dari eksperimental tersebut menunjukan bahwa High/Scope menyediakan begitu banyak manfaat untuk jangka pendek dan jangka panjang, terutama dalam hal kesiapan untuk melanjutkan studi dengan baik dan maksimal [28].

High/Scope Educational Research Foundation senantiasa mengembangkan dan menerapkan pendekatan ini hingga sekarang. Ribuan lembaga pendidikan anak usia dini di seluruh Amerika Serikat dan negara-negara lainnya kini juga semakin banyak yang menggunakan pendekatan High/Scope sebagai acuan dalam mencapai visi dan misi lembaga. High/Scope selalu mengedepankan hasil eksperimen terperinci yang berkaitan dengan matematika, ilmu pengetahuan alam, perkembangan sosial, literasi, perkembangan fisik dan motorik, seni, pemanfaatan teknologi komputer, dan membuat orang mengaplikasikan pendekatan tersebut kepada situasi dan populasi anak yang baru di seluruh dunia [29]. Dalam pengembangannya, Weikart meyakini bahwa High/Scope merupakan ungkapan dari apa yang telah berhasil diterapkan dengan baik pada anak dalam berbagai macam program sepanjang waktu.

Pendekatan High/Scope merupakan kerangka terbuka mengenai berbagai teori perkembangan dan praktik pendidikan yang berbasis pada perkembangan interaktif anak [30]. Pendekatan ini mengakui anak sebagai pembelajar aktif yang belajar dengan cara terbaik melalui berbagai kegiatan yang mereka rencanakan, laksanakan, dan refleksikan sendiri. Pendekatan ini didasrkan pada gagasan perkembangan kognitif anak dari John Piaget dan praktik pengajaran yang berasal dari teori pembelajaran sosial Vygotsky [31]. Pendekatan ini juga sangat fleksibel, tidak memerlukan penggunaan materi khusus atau buku panduan seperti yang diperlukan dalam kurikulum Montessori.

Kurikulum dalam pendekatan High/Scope memiliki tujuan untuk berusaha membantu anak berkembang dengan baik di seluruh bidang. Bagi anak, High/Scope memfasilitasi mereka untuk dapat belajar melalui keterlibatan aktif dengan lingkungan sekitar, orang lain, bahan, peristiwa, dan ide untuk menjadi mandiri, bertanggung jawab, dan penuh percaya diri sehingga mereka siap untuk terjun di masyarakat [32]. Kurikulum ini mencakup 58 pengalaman kunci bagi anak yang dikelompokkan menjadi 10 kategori besar yang memiliki indikator sebagai berikut:

Tabel 3. Indikator 10 Fokus Pendekatan High/Scope Fokus High/Scope Indikator

Bahasa dan Literasi: • Menjelaskan mengenai benda, kejadian, dan hubungan antar kejadian • Mendengarkan cerita/sajak • Membacakan cerita/sajak • Mengarang cerita • Menceritakan kepada orang lain tentang dirinya dan pengalaman pentingnya • Menulis dengan berbagai cara dan media

Inisiatif dan Hubungan Sosial: • Problem solving • Menyelesaikan masalah sosial secara sederhana • Bermain bersama • Memenuhi kebutuhan secara mandiri • Membuat dan mengekspresikan rencana dan gagasan yang dipilih • Turut serta dalam kegiatan kelompok • Peka terhadap orang lain • Mampu mengekspresikan perasaannya • Membangun hubungan baik

Seriasi/Klasifikasi: • Menjelaskan sesuatu yang berbeda • Menjelaskan karakteristik suatu benda • Mendeskripsikan bentuk • Mengeksplorasi persamaan/perbedaan suatu benda • Menjodohkan dan memilih • Membedakan antara beberapa dan semua

Mengurutkan: • Membandingkan antara mana yang lebih panjang dan mana yang lebih pendek, lebih besar atau lebih kecil • Mengurutkan benda dengan sistem trial and error, seperti benda kecil, sedang, dan besar

Konsep Waktu: • Mendekrispsikan kecepatan gerak suatu benda • Mengantisipasi, mengingat, dan mendeskripsikan sebuah kejadian atau peristiwa • Memulai dan memberhentikan suatu benda • Membandingkan interval waktu


Adapun fokus kurikulum dalam setiap harinya disebut dengan plan-do-review, di mana anak dengan bantuan pendidik membuat perencanaan, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, kemudian mengingat dan merefleksi hasil kegiatan [33], [34]. Plan-do-review dikembangkan untuk membantu kegiatan bermain dan permainan anak menjadi lebih bermakna. High/Scope menilai perkembangan anak dengan pengamatan komprehensif menggunakan COR Advantage, alat penilaian anak yang mencakup anak usia dini sampai dengan usia prasekolah. Dengan mengamati berbagai perilaku selama beberapa minggu atau bulan dapat memberikan guru gambaran yang lebih akurat tentang kemampuan anak-anak daripada tes yang diberikan dalam sesi satu kali. Dengan kata lain, High/Scope tidak hanya memberi nilai abstrak kepada orang tua namun juga menggambarkan apa yang anak mereka lakukan saat itu dan bagaimana mereka akan terus berkembang [35].

[27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35]

Referensi

  1. ↑ [1] N. S. Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek (2008)
  2. ↑ [2] H. Fauzi, “Kurikulum 2013 untuk Total Quality Education di Indonesia,”(2017)
  3. ↑ [3] Soeditarjo, Thamrin, Benny, Siskandar, and Susmiyati, Sejarah Pusat Kurikulum.(2010)
  4. ↑ [4] Herlina and Y. Indrati, Sejarah Perkembangan Kurikulum TK di Indonesia.(2010)
  5. ↑ [5] Y. D. Astuti, “Pendidikan Anak Usia Dini Di Indonesia: Permasalahan Kurikulum Taman Kanak Kanak,” (2003)
  6. ↑ [6] N. Ineu, “Pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini,” (2003)
  7. ↑ [7] Tim GMBI, “Perkembangan Kurikulum di Indonesia hingga Kurikulum 2013 (K13),”(2010)
  8. ↑ [8] L. Istiqomah, “Dinamika Perubahan Kurikulum: Kebijakan Perubahan Kurikulum 2013,”(2016)
  9. ↑ [9] Y. Rahelly, “IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI ( PAUD ) DI SUMATERA SELATAN(2018)
  10. ↑ [10] Kemendikbud, “Kemendikbud Terbitkan Kurikulum Darurat pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus,” (2020)
  11. ↑ [1] R. Febrian, “Maria Montessori dan Rahasia Metode Pembelajaran di Sekolahnya,”(2020)
  12. ↑ [2] A. Oktarina and Maemonah, “FILSAFAT PENDIDIKAN MARIA MONTESSORI DENGAN PENDIDIKAN AUD,” (2019)
  13. ↑ [3] C. P. Edwards, “Three Approaches from Europe: Waldorf, Montessori, and Reggio Emilia,”(2002)
  14. ↑ [4] D. N. Afifah and Kuswanto, “Membedah Pemikiran Maria Montessori pada Pendidikan Anak Usia Dini,” (2020)
  15. ↑ [5] J. L. Roopnarine and J. E. Johnson, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Berbagai Pendekatan. (2009)
  16. ↑ [6] A. S. Lillard, “Preschool children’s development in classic Montessori, supplemented Montessori, and conventional programs,” (2012)
  17. ↑ [7] L. Halimah, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini.(2009)
  18. ↑ [1] Tanoto, “Mengenal Lebih Jauh Tentang Reggio Emilia Approach,” (2019)
  19. ↑ [2] R. Emilia and L. G. Katz, The Hundred Languages of Childern: The Reggio Emilia Approach Advanced Reflections(2010)
  20. ↑ [3] V. M. Hewett, “Examining the Reggio Emilia Approach to Early Childhood Education,”(2001)
  21. ↑ [4] A. T. Dodd-Nufrio, “Reggio Emilia, Maria Montessori, and John Dewey: Dispelling Teachers’ Misconceptions and Understanding Theoretical Foundations,” (2011)
  22. ↑ [5] L. Halimah, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. (2009)
  23. ↑ [6] A. Arseven, “The Reggio Emilia Approach and Curriculum Development Process,” (2014)
  24. ↑ [8] A. C. Swann, “Children , Objects , and Relations : Constructivist Foundations in the Reggio Emilia Approach,” (2008)
  25. ↑ [9] S. A. Mcnally and R. Slutsky, “Key Elements of the Reggio Emilia Approach and How They are Interconnected to Create the Highly Regarded System of Early Childhood Education,” (2017)
  26. ↑ [10] J. L. Roopnarine and J. E. Johnson, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Berbagai Pendekatan(2009)
  27. ↑ [1] J. Lawrence, “Benefits, Costs, and Explanation of the High/Scope Perry,”(2003)
  28. ↑ [2] J. J. Heckman, S. H. Moon, R. Pinto, P. A. Savelyev, and A. Yavitz, “THE RATE OF RETURN TO THE HIGH/SCOPE PERRY PRESCHOOL PROGRAM,”(2009)
  29. ↑ [3] J. L. Roopnarine and J. E. Johnson, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Berbagai Pendekatan(2009)
  30. ↑ [4] M. Hohmann and D. P. Weikart, Educating Young Children: Active Learning Practices for Preschool and Child Care Program.(2002)
  31. ↑ [5] A. S. Epstein, Essentials of active Learning in the preschool: Getting to know the High/Scope Curiculum.(2007)
  32. ↑ [6] L. Halimah, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini.(2009)
  33. ↑ [7] L. Amalia, “Model Pembelajaran High Scope dalam Pelaksanaan PAUD,”(2018)
  34. ↑ [8] L. J. Schweinhart and D. P. Weikart, “THE HIGH/SCOPE PRESCHOOL CURRICULUM COMPARISON STUDY THROUGH AGE 23,”(1997)
  35. ↑ [9] D. Shila, “HighScope Indonesia: Pertanyaan dan Jawaban,” (2020)