Pengertian
Kata strategi berasal dari bahasa Latin strategia, yang dimaksud bagaikan seni pemanfaatan rencana untuk meraih tujuan. Strategi pendidikan meliputi rencana, tata cara serta fitur aktivitas yang direncanakan buat menggapai tujuan pengajaran tertentu.[1] Bagi Slameto dalam Riyanto, kalau strategi pendidikan mencakup jawaban atas persoalan: [2]
- Siapa melakukan apa dan menggunakan alat apa dalam proses pembelajaran. Kegiatan ini menyangkut peranan sufreember, penggunaan bahan, dan alat-alat bantu pembelajaran.
- Bagaimana melaksanakan tugas pembelajaran yang telah didefinisikan sehingga tugas tersebut dapat memberikan hasil yang optimal. Kegiatan ini menyangkut metode dan teknik pembelajaran.
- Kapan dan di mana kegiatan pembelajaran dilaksanakan serta berapa lama kegiatan tersebut dilaksanakan.
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan a plan, metode, or series of ancivities desegned to particuar educational goal (David, 1976). Maka strategi bisa diartikan sebagai perencanaan yang berisi serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari rumusan tetsebut ada 2 hal yang perlu di perhatikan.
- Startegi pembelajaran adalah rencana kegiatan yang didalamnya terdapat metode dan memanfaatkan sumber daya untuk pembelajaran.
- Stategi dirancang untuk mencapai tujuan tertentu
Strategi pembelajaran terdiri dari semua komponen pembelajaran serta langkah- langkah yang digunakan dalam membantu siswa mencapai sebuah tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran juga merupakan kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai karakteristik siswa, keadaan sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Strategi pembelajaran ekspositori
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi yang menekankan kepada materi yang disampaikan oleh guru kepada siswa dengan maksud supaya siswa bisa menguasai materi pelajaran dengan maksimal [3]. Strategi pembelajaran ekspositori tentu saja berorientasi kepada guru, hal tersebut dapat dilihat dari peranan guru yang sangat penting atau dominan. Guru menyampaikan pembelajaran yang sudah dipersiapkan secara rapi, sistematik, dan lengkap sehingga siswa dapat menyimak serta memahaminya secara baik.
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Fokus utama strategi ini adalah kemampuan akademik (academic achievement) siswa. Sehingga strategi ini akan efektif apabila:
- Guru menyampaikan materi-materi dasar seperti konsep-konsep tertentu, prosedur, atau rangkaian aktivitas, dan lain sebagainya.
- Guru menginginkan agar siswa mengingat dan memahami materi pelajaran yang diberikan.
- Bahan atau materi pelajaran yang akan diberikan berupa presentasi yang disampaikan oleh guru.
- Guru ingin membangkitkan keingintahuan siswa tentang topik tertentu.
- Guru menginginkan untuk mendemonstrasikan suatu teknik atau prosedur tertentu untuk kegiatan praktik.
- Seluruh siswa memiliki tingkat kesulitan yang sama sehingga guru perlu menjelaskan untuk seluruhnya.
- Guru mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemampuan rendah.
- Tidak adanya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
- Guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Prinsip strategi pembelajaran ekspositori
Berorientasi pada tujuan
Tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diukur atau berorientasi pada kompetensi yang harus dicapai oleh siswa.
Prinsip komunikasi
Komunikasi dikatakan efektif apabila pesan itu dapat mudah ditangkap oleh penerima pesan secara utuh, dan sebaliknya, komunikasi dikatakan tidak efektif bila penerima pesan tidak dapat menangkap setiap pesan yang disampaikan.
Prinsip kesiapan
Sebelum guru menyampaikan informasi terlebih dahulu harus dipastikan apakah dalam otak anak sudah tersedia file yang sesuai dengan jenis informasi yang akan disampaikan atau belum, kalau seandainya belum maka terlebih dahulu harus kita sediakan dahulu file yang akan menampung setiap informasi yang akan kita sampaikan.
Prinsip berkelanjutan
Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut.
Langkah-langkah dalam penerapan strategi ekspositori
Persiapan (preparation)
- Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif
- Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai
- Bukalah file dalam otak siswa atau pengetahuan apa yang telah mereka simpan
Penyajian (presentation)
- Penggunaan bahasa yang bersifat komunikatif dan mudah dipahami
- Butir daftar bernomor
- Pengaturan nada suara akan membuat perhatian siswa tetap terkontrol
- Menjaga kontak mata dengan siswa
- Menggunakan joke-joke yang menyegarkan
- Butir daftar bernomor
Menghubungkan (correlation)
Langkah ini menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam pengetahuan yang telah dimilikinya.
Menyimpulkan (generalization)
Tahapan ini bertujuan untuk memahami ini dari materi pelajaran yang telah disajikan. Dimana siswa dapat mengambil inti sari dari proses penyajian atau penjelasan guru.
Penerapan (aplication)
Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini di antaranya, pertama, dengan membuat tugas yang relevam dengan materi yang telah disajikan. Kedua, dengan memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.
Strategi pembelajaran inkuiri
Inkuiri adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara kritis, analitis dan sistematis [4]. Dengan demikian dalam proses perencanaan, pendidik bukanlah mempersiapkan materi yang harus difahaminya, tetapi member kesempatan peserta didik untuk mencari, menemukan dan mengembangkan jawaban dari suatu masalah atau pengetahuan serta kesimpulannya. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
Strategi pembelajaran inkuiri akan efektif apabila
- Siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan
- Bahan pelajaran berupa kesimpulan yang perlu pembuktian, bukan fakta atau konsep yang sudah jadi
- Proses pembelajaran dibangun atas rasa keingin tahuan siswa terhadap sesuatu.
- Guru mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir
- Jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru
- Guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa
Tujuan dan manfaat
- Mengembangkan sikap, keterampilan, kepercayaan siswa dalam memutuskan sesuatu secara tepat dan obyektif.
- Mengembangkan kemampuan berpikir agar lebih tanggap, cermat dan melatih daya nalar (kritis, analitis dan logis).
- Membina dan mengembangkan sikap ingin lebih tahu (curiocity).
- Mengungkapkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Prinsip-prinsip dalam strategi pembelajaran inkuiri
Prinsip interaksi
Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi ini adalah guru sebagai penanya. Karena kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagai dari proses berpikir.
Prinsip keterbukaan
Belajar merupakan proses mencoba berbagai kemungkinan. Sehingga anak perlu diberi kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya.
Prinsip belajar untuk berfikir
Belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yaitu proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan secara maksimal.
Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dalam strategi ini adalah sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
Ada beberapa hal yang menjadi utama strategi pembelajaran inquiry
- Menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inquiry menempatkan siswa sebagai objek belajar.
- Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
- Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
- Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa rata-rata memilki kemauan dan kemampuan berpikir, atrategi ini akan kurang berhasil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
- Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
- Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa
Langkah-langkah strategi pembelajaran inkuiri menurut richart suchman
- Identifikasi kebutuhan siswa.
- Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari.
- Seleksi bahan dan problema atau tugas-tugas.
- Membantu memperjelas (1) Tugas/problem yang aka dipelajari dan (2) Peranan masing-masing siswa.
- Menyiapkan alat-alat yang diperlukan.
- Mencek pemahaman siswa akan tugas dan masalah yang akan dipecahkan (sekali lagi) serta tugas-tugasnya.
- Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan.
- Membantu siswa dengan informasi data jika diperlukan.
- Memimpin siswa menganalisis sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses.
- Merangsang terjadinya interaksi antar siswa.
- Memuji dan membesarkan hati siswa yang tergiat dalam proses penemuan.
- Membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi atas hasil temuan.
Strategi pembelajaran berbasis masalah
Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) adalah strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merumuskan dan memilih topik masalah yang ingin dijawab terkait dengan materi pembelajaran tertentu [5]. Titik berat strategi ini terletak pada pemecahan masalah secara rasional, logis, benar dan tepat dengan penentuan alternatif yang berguna. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah masalah sifatnya terbuka, dalam arti jawaban belum pasti, setiap peserta didik dapat mengembangkan berbagai kemungkinan jawaban tergantung dari permasalahan yang dirumuskan peserta didik. Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan apabila:
- Guru menginginkan siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
- Guru mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
- Guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
- Guru mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
- Guru ingin siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan)
Kriteria pemilihan bahan pelajaran: strategi pembelajaran berbasis masalah
- Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict issue) yang bisa bersumber dari berita, rekaman video, dan lainnya.
- Bahan bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
- Bahan berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya.
- Bahan mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
- Bahan sesuai dengan minat siswa sehingga siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
Tahapan dalam strategi pembelajaran berbasis masalah
John Dewey menjelaskan 6 langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu:
- Merumuskan masalah, yaitu siswa menetukan masalah yang akan dipecahkan
- Menganalisis masalah, yaitu siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang
- Merumuskan hipotesis, yaitu siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya
- Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah
- Pengujian hipotesis, yaitu siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
- Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan
Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa [6]. Dalam pembelajaran ini materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, akan tetapi siswa dibimbing untuk proses menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa. Strategi pembelajaran ini bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajarkan. Jadi siswa tidak hanya sekedar mengingat dan memabahmi berbagai data, fakta, atau konsep, akan tetapi bagaimana data, fakta dan konsep tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk melatih kemampuan berpikir siswa dalam menghadapi dan memecahkan suatu persoalan.
Karakteristik strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
- Proses pembelajaran tidak hanya menuntut siswa mendengar dan mencatat tapi juga berpikir
- Proses pembelajaran melalui dialog dan tanya jawab diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa
- Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir
Tahapan-tahapan strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
- Tahap Orientasi, pertama, penjelasan tujuan yang harus dicapai baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran, maupun proses pembelajaran atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa. Kedua, penjelasan proses pembelajaran yang harus dilakukan siswa dalam setiap tahapan.
- Tahap Pelacakan, guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman apa saja yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema yang akan dikaji.
- Tahap Konforntasi, tahapaan penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Guru dapat memberikan persoalan-persoalan yang memerlukan jawaban atau jalan keluar untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa.
- Tahap Inkuiri, siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Melalui berbagai teknik bertanya, guru memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan, mengungkap fakta sesuai pengalamannya, memberikan argumentasi yang meyakinkan, mengembangkan gagasan dalam upaya pemecahan persoalan.
- Tahap Akomodasi, siswa dituntut untuk menemukan kata-kata kunci sesuai dengan topik atau tema pembelajaran. Guru membimbing siswa melalui dialog agar dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan pahami tentang topik yang dipermasalahkan. Sisw adiarahkan untuk mampu mengungkap kembali pembahasan yang dianggap penting dalam proses pembelajaran.
- Tahap Transfer, tahapan penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang disajikan dimana siswa mampu memecahkan masalah tersebut dengan pemberian tugas dari guru yang sesuai dengan topik pembahasan.
Strategi pembelajaran kooperatif
Strategi Pembelajaran Kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen), sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok [7]. Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok- kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok tersebut menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.
Strategi pembelajaran ini bisa digunakan apabila
- Guru menekankan pentingnya usaha kolektif di samping usaha individual dalam belajar
- Guru menginginkan seluruh siswa memperoleh keberhasilan dalam belajar
- Guru ingin menanamkan, bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya, dan belajar dari bantuan orang lain
- Guru mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum
- Guru meningkatkan motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka
- Guru mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusu pemecahan
Karakteristik SPK
Pembelajaran secara tim
Tim atau kelompok bertujuan agar setiap anggota dapat saling memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi atau saling membantu demi keberhasilan kelompok.
Manajemen Kooperatif
Fungsi pokok dalam manajemen yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Fungsi perencanaan berarti memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok. Fungsi pelaksanaan, berarti pembelajaran harus dilaksanakan sesuai perencanaan. Fungsi kontrol berarti perlu ditentukan kriteria keberhasilan melalui tes maupun non tes.
Kemauan Kerja Sama
Setiap anggota kelompok tidak hanya diatur tugas dan tanggung jawabnya, tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu.
Keterampilan Kerja Sama
Siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi sehingga siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
Prinsip strategi pembelajaran kooperatif
Ketergantungan positif
Keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh karena itu, masing-masing anggota kelompok hendaknya saling ketergantungan dan memaksimalkan kinerjanya.
Tanggung jawab perorangan
Keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
Interkasi tatap muka
Melalui bertatap muka, siswa dapat saling memberikan informasi dan saling membelajarkan.
Partisipasi dan komunikasi
Guru perlu terus melatih siswa agar memiliki kemampuan untuk melakukan partisipasi dan komunikasi dalam menyatakan ketidaksetujuan, cara menyanggah pendapat orang lain secara santun, tidak memojokkan, cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang dianggapnya baik dan berguna.
Langkah-langkah pembelajaran SPK
Penjelasan materi
Guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim).
Belajar dalam kelompok
Siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya.
Penilaian
Penilaian dilakukan dengan tes atau kuis secara individual maupun kelompok.
Pengakuan tim
Penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah.
Strategi pembelajaran kontekstual
Contexrtual Teaching and Learning (CTL) adalah sesuatu strategi pembelajaran yang membantu guru dengan menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikanya serta dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Jhonson, 2002).
Karakteristik pembelajaran kontekstual
- Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik
- Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas- tugas yang bermakna (meaningful learning).
- Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
- Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mngoreksi antar teman (learning in a group).
- Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
- Pemebelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
- Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning ask an enjoy activity).
Menurut zahorik 1995 ada 5 karakter penting yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual:
- Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge) pada siswa.
- Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari dengan cara mempelajari secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian memerhatikan detailnya.
- Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) artinya pengetahuan yang diperoleh bukan dihafal tetapi untuk difahami dan dihayati.
- Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) dalam kehidupan sehari-hari.
- Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pembelajaran.
Asas-asas dalam CTL
CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas yang disebut sebagai komponen-komponen CTL. Ketujuh asas itu mencakup:
Konstruksivisme (contrukcvism)
Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkontruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman.
Menemukan (inquiry)
Dalam CTL ditekankan bahwa hasil belajar diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Secara umum proses inkuiri dpat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
- Merumuskan masalah
- Mengajukan hipotesis
- Mengumpulkan data
- Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
- Membuat kesimpulan
Bertanya (questioning)
Melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. Kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:
- Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran
- Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar
- Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu
- Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan
- Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu
Masyarakat belajar (learning community)
Pelaksanaan masyarakat belajar dikelas dapat diwujudkan dalam:
- Pembentukan kelompok kecil
- Pembentukan kelompok besar
- Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh masyarakat, dokter, polisi, dan lain-lain)
- Bekerja dengan kelas sederajat
- Bekerja dengan masyarakat
Pemodelan (modeling)
Proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
Refleksi (reflection)
Setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya.
Penilaian nyata (authentic assessment)
Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
Peran guru dalam CTL
- Guru sebagai pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
- Guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa
- Guru membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya
- Guru bertugas memfasilitasi agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi
Pola dan tahapan pembelajaran CTL
Pendahuluan
- Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari
- Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
- Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa
- Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi
- Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan
- Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa
Inti
- Di lapangan
- Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagin tugas kelompok
- Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya
- Di dalam kelas
- Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
- Siswa melaporkan hasil diskusi
- Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain
Penutup
- Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai
- Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka
Strategi pembelajaran afektif
Strategi pembelajaran afektif memang berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhubungan dengan nilai (value) yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam diri siswa [8]. Dalam batas tertentu, afeksi dapat muncul dalam kejadian behavioral. Akan tetapi, penilaiannya untuk sampai pada kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus, dan hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan.
Proses pembentukan sikap
Pola pembiasaan
Setiap kali anak menunjukkan prestasi yang baik diberikan penguatan (reinforcement) dengan cara memberikan hadiah atau perilaku yang menyenangkan. Lama-kelamaan, anak berusaha meningkatkan sikap positifnya.
Butir daftar bernomorModelling
Adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya.
Model strategi pembelajaran sikap
Model konsiderasi
Implementasi model konsideransi guru dapat mengikuti tahapan pembelajaran yaitu:
- Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
- Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah dengan melihat bukan hanya yang tampak, tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut.
- Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.
- Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain serta membuat kategori dari setiap respons yang diberikan siswa.
- Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.
- Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang (interdisipliner) untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
- Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.
Model pengembangan kognitif
Tingkat prakonvensional
- Tahap 1 Orientasi hukuman dan kepatuhan, perilaki anak didasarkan kepada konsekuensi fisik yang akan terjadi, anak hanya berpikir bahwa perilaku yang benar itu adalah perilaku yang tidak akan mengakibatkan hukuman.
- Tahap 2 Orientasi intrumental-relatif, perilaku anak didasarkan kepada rasa adil berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati.
Tingkat konvensional
- Tahap 3 Keselaraasan interpersonal, setiap perilaku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.
- Tahap 4 Sistem sosial dan kata hati, perilaku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya, akan tetapi didasarkan pada tuntutan dan harapan masyarakat.
Tingkat postkonvensional
- Tahap 5 Kontrak sosial, perilaku individu didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui oleh masyarakat.
- Tahap 6 Prinsip etis yang universal, segala macam tindakan bukan hanya didasarkan sebagi kontrak sosial yang harus dipatuhi, akan tetapi didasarkan pada suatu kewajiban sebagai manusia.
Teknik mengklarifikasi nilai
Kebebasan memilih
- Memilih secara bebas.
- Memilih dari beberapa alternatif.
- Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
Menghargai
- Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian integral dari dirinya.
- Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum.
Berbuat
- Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya.
- Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya.
Referensi
- ↑ Majid, A. (2013). Strategi pembelajaran. Remaja Rosdakarya
- ↑ Riyanto, Y. (2010). Paradigma baru pembelajaran: Sebagai referensi bagi guru/pendidik dalam implementasi pembelajaran yang efektif dan berkualitas. Kencana
- ↑ Sanjaya, W. (2010). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana
- ↑ Sanjaya, W. (2010). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana
- ↑ Sanjaya, W. (2010). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana
- ↑ Sanjaya, W. (2010). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana
- ↑ Sanjaya, W. (2010). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana
- ↑ Sanjaya, W. (2010). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana